Laman

Rabu, 22 Februari 2012

URUTAN PANGKAT POLISI DAN TNI

Nama PangkatSingkatanSimbolLetak
PERWIRA TINGGI
Jenderal Besar
/ Laksana Besar* /  Marsekal besar**
 jenderal besarpatiPundak
Jenderal  / Laksamana Laut* / Marsekal**Jend.
Letnan Jenderal / Laksamana Madya* / Marsekal Madya **Letjen
Mayor Jenderal / Laksamana Muda* / Marsekal Muda**Mayjen
Brigadir Jenderal / Laksamana Pertama*  / Marsekal Pertama**Brigjen
PERWIRA MENENGAH
KolonelKol.Pundak
Letnan KolonelLetkol
MayorMay.
PERWIRA PERTAMA
KaptenKapt.patamaPundak
Letnan SatuLettu
Letnan DuaLetda
BINTARA TINGGI
Pembantu Letnan SatuPeltubintaraPundak
Pembantu Letnan DuaPelda
BINTARA
Sersan MayorSermasersanLengan
Sersan KepalaSerka
Sersan SatuSertu
Sersan DuaSerda
TAMTAMA
Kopral KepalaKopka
Lengan
Kopral SatuKoptu
Kopral DuaKopda
Prajurit KepalaPraka
Prajurit SatuPratu
Prajurit DuaPrada

Urutan Kepangkatan POLRI

Nama PangkatSingkatanSimbolLetak
PERWIRA TINGGI
  Pundak
Jenderal PolisiJend. Pol
Komisaris Jendral PolisiKomjen Pol
Inspektur Jenderal PolisiIrjen Pol
Brigadir Jenderal PolisiBrigjen Pol
PERWIRA MENENGAH
Komisaris Besar PolisiKombes PolPundak
Ajun Komisaris Besar PolisiAKBP
Komisaris PolisiKompol
PERWIRA PERTAMA
Ajun Komisaris PolisiAKPPundak
Inspektur Polisi SatuIptu
Inspektur Polisi DuaIpda
BINTARA TINGGI
Ajun Inspektur Polisi SatuAiptuPundak
Ajun Inspektur Polisi DuaAipda
BINTARA
Brigadir Polisi KepalaBripkaPundak
Brigadir PolisiBrippol
Brigadir Polisi SatuBriptu
Brigadir Polisi DuaBripda
TAMTAMA
Ajun Brigadir PolisiAbrippolPundak
Ajun Brigadir Polisi SatuAbriptu
Ajun Brigadir Polisi DuaAbripda
Bhayangkara KepalaBharaka
Bhayangkara SatuBharatu
Bhayangkara DuaBharada


Rabu, 15 Februari 2012

Camfrog

bagi kamu yang ingin coba camfrog bisa langsung download
http://www.ziddu.com/download/18610276/camfrog61156.exe.html
nikmati langsung dengan cara instal dan registrasi
gratiss.....

Rabu, 08 Februari 2012

Cara Mendidik Anak Agar Tidak MATERIALISTIS

Orangtua zaman sekarang memiliki pekerjaan rumah demikian banyak dalam mengasuh dan membersarkan anak-anaknya. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis. Upaya orangtua harus demikian kuat agar bombardir iklan di televisi, majalah, maupun pengaruh teman sebaya, yang menjadi beberapa faktor atas sifat materialistis, dapat diredam.
Studi yang dilakukan oleh Penn State's Smeal College of Business, seperti dikutip dalam No More Misbehavin' yang ditulis oleh Michele Borba, Ed.D, menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh.
Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Orangtua perlu mempelajari sejumlah cara bagaimana cara membesarkan anak tanpa membuat mereka menjadi individu yang materialistis.
Berikut cara-cara yang disarankan:

1. Membatasi tontonan televisi :

Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya anak tidak menonton lebih dari dua jam setiap hari. Selain sejumlah program yang dibuat banyak yang masih tidak sesuai dengan usia anak, iklan yang muncul di antara program tersebut kerap menarik perhatian anak dan pada akhirnya membuat mereka menginginkannya. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan mengalihkan perhatian anak saat jeda iklan. Kalaupun tidak, jelaskan kepada anak tentang teknik pemasaran yang biasa digunakan dalam iklan. Atau tonton acara yang tidak ada iklannya.

2. Perhatikan apa yang diperhatikan anak:

Bila Anda melihat anak ingin menggunakan celana jins skinny, pakaian dengan merek ternama karena melihatnya di majalah, inilah waktunya untuk menjelaskan kepada mereka agar tidak selalu mengikuti arus. Pada awalnya anak mungkin saja akan kesal, sebal, dan mengatakan Anda tidak paham perasaan mereka. Namun, dengan mengingatkan akan hal tersebut, pada akhirnya anak akan meresapi penjelasan Anda.

3. Katakan "tidak":

Bukan tindakan tepat untuk selalu memberikan apa saja yang diinginkan anak. Lagipula, menurut Michele, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini 'kan? Mengatakan "tidak" atau menolak membelikan benda-benda yang diinginkan anak bukanlah hal keliru.

4. Hadiah tanpa membeli:

Sesekali ada baiknya juga melatih anak untuk tidak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal itu akan mendorong anak untuk kreatif dalam membuat hadiah tanpa mengeluarkan uang, misalnya membuat kartu, puisi, atau poster yang menggambarkan rasa sayang mereka bagi penerima hadiah.

5. Menjadi panutan:

Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sepermainan anak, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah Anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah Anda sebagai orangtua suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka?
Kalau jawabannya iya, orangtua perlu membenahi diri. Perlu diingat, anak lebih meniru orangtuanya. Dengan kata lain, kalau orangtua ingin memiliki anak yang tidak materialistis, harus bisa menjadi contoh. Percuma saja orangtua mengajarkan anak untuk tidak selalu membeli barang mewah sementara sang ibu masih asyik membeli sepatu atau tas dengan harga selangit.

6. Ajarkan prioritas:

Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, minta anak untuk membuat daftar barang yang diinginkan lalu buat prioritasnya.

7. Latih kesadaran untuk menyumbang:

Tidak harus memaksa anak untuk mau menyumbangkan benda kesayangan mereka. Orangtua bisa menjadi contoh baik dengan menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan jelaskan alasan Anda melakukan itu. Setelah itu biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendonasikan barang-barangnya juga. Barang tersebut bisa diberikan kepada sepupu yang lebih kecil ataupun kepada anak-anak yang tidak mampu. Hal itu akan membantu anak menyadari bahwa barang hanya objek semata.
Mereka juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama, seperti yang dialaminya.